translate

Tampilkan postingan dengan label Cakrawala2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cakrawala2. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juli 2011

Nama-nama Setan Dan Pekerjaannya

Khanzab adalah setan pengganggu orang salat. Walhan adalah setan yang menggoda orang yang berwudhu dan membisikinya. Dasim adalah setan yang mengganggu keluarga dan rumah. Abyadh, setan paling buruk dan kuat menggoda para nabi.
undefined
Mujahid berkata,"Di antara keturunan setan adalah Laqnis dan Walhan,keduanya menggoda orang yang bersuci dan sholat. Keduanya digelari dengan al-Hafaf dan Murrah. Zalanbur, Setan yang menggoda di pasar yang  menghiasi hal yang sia-sia, sumpah, dusta dan memuji barang dagangannya. Bathar setan yang menggoda orang yang tertimpa musibah, membisikinya supaya mencakar wajah, memukul pipi, dan merobek kantong bajunya sendiri. Al-'Awar adalah setan penggoda orang yang berzina dengan menyebarkannya di kelamin laki-laki dan ketuaan pada perempuan."
Mathus, setan pemilik berita dusta yang disebarkan melalui mulut-mulut manusia yang tidak ada sumbernya. Dasim, yakni bila seorang memasuki rumah tanpa mengucapkan salam dan tidak mengingat Allah, maka dia dapat melihat harta kekayaan seseorang selama belum di angkat atau diperbaiki tempatnya. Bila seseorang makan dan tidak membaca basmallah, maka dia akan makan bersamanya.
Al 'Amasy berkata,"Ketika aku masuk ke dalam rumah dan tidak menyebut nama Allah SWT, serta tidak bersalam aku melihat api. Aku berkata,"Angkatlah, dan aku berbantahan dengannya. Kemudian aku ingat dan berkata, "Dasim, Dasim, Aku berlindung kepada Allah SWT darinya."
Ubay bin Kaab meriwayatkan dari Nabi SAW. Beliau bersabda,"Sesungguhnya wudhu itu ada setannya yang bernama Walhan. Maka takutlah kalian semua dari sifat was-was pada air."Diriwayatkan oleh Tirmidzi.
Muslim meriwayatkan dari Ustman bin Abi Al Ash. Dia berkata,"Ya Rosulullah, setan telah menghalangi antara diriku dan salatku dan tanda-tanda yang ia kenakan padaku." Rosulullah bersabda,'Itu adalah setan yang di sebut Khanzab. Maka bila engkau merasakannya, berlindunglah kepada Allah darinya, dan meludahlah ke sebelah kirimu tiga kali.' Maka aku melakukan itu dan Allah menghilangkannya dariku."

Sumber: Hikaya Ash-Shufiyyah, Muhammad Abu Al-Yusr 'Abidin.

Minggu, 17 Juli 2011

Hukum Berzikir dan Berdoa dengan meninggikan suara

Hukum Berzikir dan Berdoa dengan meninggikan suara

Persoalan yang akan dibincangkan disini bukanlah suatu persoalan yang baru bahkan merupakan persoalan yang diperdebatkan dari generasi ke generasi dan akan berlarutan selagi mana kita tidak berlapang dada dan tidak cuba mengkajinya secara ilmiah.
Kita merasa terkilan kepada sebahagian yang mendakwa

Jumat, 01 Juli 2011

Isra'Mi'raj

Posted by tri.subekti
Bulan Rajab, bulan yang dihormati manusia. Bulan ini termasuk bulan haram (Asyhurul Hurum). Banyak cara manusia menghormati bulan ini, ada yang menyembelih hewan, ada yang melakukan sholat khusus Rajab dan lain-lainnya.
Di bulan ini juga, sebagian kaum muslimin memperingati satu peristiwa yang sangat luar biasa, peristiwa perjalanan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dari Makkah ke Baitul Maqdis, kemudian ke sidratul muntaha menghadap Pencipta alam semesta dan Pemeliharanya. Itulah peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Peristiwa ini tidak akan dilupakan kaum muslimin, karena perintah sholat lima waktu sehari semalam diberikan oleh Allah pada saat Isra’ dan Mi’raj. Tiang agama ini tidak akan lepas dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam .
Akan tetapi, haruskah peristiwa itu diperingati? Apakah peringatan Isra’ mi’raj yang dilakukan kaum ini merupakan hal yang baik ataukah satu hal yang merusak agama? Simaklah pembahasan kali ini, mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk memahaminya

Sabtu, 30 April 2011

Orang-orang yang Dicintai Allah

i dalam Al Qur’an, Allah menyebutkan beberapa sifat atau jenis orang yang Ia cintai. Mereka yang dicintai Allah tentunya akan memperoleh rahmat, berkah, pertolongan dan keridhaan-Nya. Berikut ini adalah daftar sifat orang-orang yang dicintai-Nya tersebut.

Muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan)

Empat kali Allah secara lugas menyatakan cinta-Nya kepada orang-orang dalam golongan Muhsinin [2:195, 3:134, 3:148, 5:13, 5:93]. Mereka adalah orang-orang yang:
  • Mengerjakan kebaikan
  • Membelanjakan hartanya di jalan Allah, baik dalam kesempitan maupun kelonggaran
  • Menahan amarah
  • Memaafkan orang lain dan tidak menghukum atau mendendamnya

Muttaqin (orang-orang yang takut kepada Allah)

Kecintaan Allah terhadap orang-orang yang takut atau bertakwa kepada-Nya terungkap tiga kali di dalam Al Qur’an [3:76, 9:4, 9:7]. Mereka adalah orang-orang yang memenuhi dan memegang teguh ikrarnya, baik janji kepada manusia dan terlebih lagi ikrarnya di hadapan Allah. Mereka istiqomah, konsisten dan teguh dalam menjalankan janji tersebut.

Muqsithin (orang-orang yang adil)

Selanjutnya, yang juga tiga kali disebutkan di dalam Al Qur’an adalah para Muqsithin atau orang-orang yang adil [5:42, 49:9, 60:8]. Allah mencintai mereka yang memutuskan perkara dengan adil, mendamaikan dengan adil dengan mempertimbangkan pihak-pihak yang bertikai dan melandaskan keputusan berdasarkan bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Allah juga mencintai orang-orang yang adil terhadap orang-orang di luar kaum muslimin yang tidak menampakkan permusuhan mereka.

Muthahhirin (orang-orang yang membersihkan diri)

Kaum Mutahhirin atau orang-orang yang membersihkan diri juga dicintai oleh Allah [2:222, 9:108]. Dalam dua ayat-Nya, Allah menyatakan bahwa Ia mencintai orang-orang yang membersihkan dirinya dari kotoran dan najis. Allah juga mencintai orang-orang yang menyucikan dirinya, baik badan, fikiran maupun ruhani melalui ibadah sholat.
Dan berikut ini adalah sifat-sifat lain yang sekali saja muncul di dalam Al Qur’an sebagai orang-orang yang dicintai Allah:
  • Tawwabin (orang-orang yang bertaubat) [2:222]
  • Shabirin (orang-orang yang sabar) [3:146]
  • Mutawakkilin (orang-orang yang bertawakal) [3:159]
  • Mujahidin (orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan rapi) [61:4]
  •                                                                                       (kopas : alhabib)

Senin, 18 April 2011

7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS:14:7)
Pada dasarnya kita, manusia, diberi kemampuan oleh Allah untuk mengenalNya, karena memang kita adalah KhalifahNya atau WakilNya di muka bumi (lihat[2.30]). Tidak ada yang bisa mengenalNya atau bermakrifat kepadaNya selain dari sang Khalifah tadi. Malaikat saja tidak bisa bermakrifat kepadaNya. Hanya sang KhalifahNya. That’s it !!! ……… Sekarang yang menjadi pertanyaan kita siapa itu sang Khalifah itu?

Allah menurunkan Al Quran untuk menjadi pegangan sang Khalifah selama di bumi. Al Quran yang diturunkan kepada Rasul Penyempurna atau Khatamul Anbiya, Muhammad SAW. Perilaku dan ucapan Rasul Penyempurna tersebut juga menjadi acuan ke dua kita, yaitu Hadis.

Kenapa Al Quran sebagai pegangan sang Khalifah, bukan Taurat, Injil dll? Karena Al Quran tsb adalah juga Kitab Penyempurna yang disampaikan Sang Penyempurna, Rasulullah SAW. Jadi yang telah sampai ke kita adalah semuanya Telah Sempurna. Tidak ada lagi setelah itu.

Al Quran adalah kumpulan dari semua kitab suci sebelumnya yang dihimpun Allah dalam berbagai dimensi, baik dalam dimensi akhlak, ekonomi, pendidikan dan seterusnya sampai ke sejarah nabi-nabi. “You name it,” kata orang. Pasti ada jawabannya dalam Al Quran, karena dia adalah Sang Penyempurna, Sang Pamungkas. Apapun tentang kehidupan ada jawabannya di dalam Al Quran, Sang Pamungkas itu.

Pembawa Sang Pamungkas itu juga adalah Sang Sempurna dan Sang Pamungkas. Ajaran Rasulullah SAW sebenarnya adalah kumpulan ajaran semua nabi-nabi. Dan juga hakikat Sang Rasul SAW juga adalah kumpulan hakikat para nabi.

Al Quran yang sempurna diturunkan kepada Rasul Yang Sempurna oleh Yang Maha Sempurna, pasti tidak main-main kualitasnya. Tidak ada lagi yang bisa menyamai apalagi melampaui Yang Sempurna ini di seluruh alam semesta. Tetapi sekarang kebanyakan manusia hanya mengartikan atau menafsirkan apa yang tersurat dalam Al Quran itu. Al Quran tsb hanya diartikan dalam arti yang sempit, yang tersurat saja. Sebenarnya arti tersiratnya lebih banyak lagi dan sangat dalam. (lihat [18.109]). Al Quran yang sempurna diartikan dan ditafsir secara sempit sehingga pemaknaan terhadap kesempurnaan Al Quran tidak tercapai. Al Quran lebih banyak ditafsirkan pada suatu kejadian yang dialami Rasulullah SAW pada waktu itu dan diterapkan secara sempit pada zaman sekarang.

Kalau Al Quran itu sempurna, pasti kita yakin bahwa tidak ada pertentangan di dalamnya, tidak ada kesalahan walaupun sebesar zarah. Kita semua paham akan hal tersebut. Kita menyakini dan mengerti tentang sejarah para nabi yang dipaparkan Allah dalam Al Quran dan pikiran kita langsung terbang ke ribuan bahkan ratusan ribu tahun lalu. Banyak hikmah yang bisa kita pelajari dari sejarah-sejarah tersebut. Tetapi ingat, Al Quran itu Maha Sempurna dari Yang Maha Sempurna. Setiap huruf, kata dan kalimat dalam Al Quran tidak pernah kadaluarsa pemahamannya, dia selalu hidup dan berlaku setiap saat sampai hari kiamat.

Sebagai contoh adalah kisah Nabi Yusuf ini, yaitu suatu kisah yang termasuk cukup lengkap dipaparkan Allah dalam Al Quran. Mari kita telurusi garis besar kehidupan Nabi Yusuf AS ini.
  • Nabi Yusuf AS bersaudara  11 orang, 1 kandung dan 10 tiri.
  • Waktu kecil dibuang oleh 10 saudara tirinya ke dalam sumur.
  • Kemudian dipungut oleh para musafir dan selanjutnya dijual ke orang Mesir.
  • Nabi Yusuf AS dibesarkan di rumah orang Mesir dan wanita (Zulaikha) yang tinggal di rumah tsb menggoda Yusuf, tetapi Yusuf berhasil keluar dari godaan tersebut sehingga baju belakang robek.
  • Perbuatan tersebut diketahui oleh penguasa Mesir tersebut dan akibatnya Nabi Yusuf AS masuk penjara.
  • Nabi Yusuf AS diberi Allah hikmah bisa menabirkan mimpi.
  • Dengan kemampuan menabirkan mimpi itu dia bisa keluar penjara dan diangkat menjadi bendahara kerajaan Mesir.
  • Waktu masa panceklik, datang saudara tirinya meminta jatah makanan. Nabi Yusuf AS mengenal saudara-saudaranya itu sedangkan mereka tidak mengenal.
  • Setelah bolak-balik, akhirnya Nabi Yusuf AS berhasil membawa saudara kandungnya, Ibu dan Bapaknya ke Mesir dan mereka berkumpul kembali.
Akhir ceritanya seperti film Disneyland. Happily Ever After.

Memang banyak hikmah atau perilaku yang bisa kita tiru dari kisah tsb. Pertanyaannya adalah: apakah hanya itu gunanya Al Quran? Apakah hanya itu pesan dari Yang Maha Sempurna lewat Kitab SempurnaNya kepada khalifahNya? Apakah petualangan nabi Yusuf tersebut sudah bisa dijadikan petunjuk yang sempurna? Memang, petualangan nabi Yusuf AS ini dari sisi si Pemberi yaitu Allah sudah pasti sempurna karena sudah dijaminNya, tetapi dari sisi kita, sempurna tidak sempurnanya informasi tersebut tergantung penafsiran kita terhadap ayat-ayat tersebut.

Contoh lain adalah kisah Nabi Nuh AS.
  • Terjadi puluhan ribu tahun lalu.
  • Kaumnya yang sangat keras kepala, sepanjang hayatnya yang hampir 1000 tahun berdakwah, tidak banyak  pengikutnya.
  • Allah menyuruh membuat perahu dan memasukkan semua yang berpasangan ke dalamnya.
  • Datanglah banjir besar semua ditenggelamkan.
  • Anaknya tidak mau ikut, dan lari ke gunung. Tetapi akhirnya gunungpun ditenggelamkan oleh banjir besar itu.
  • Setelah banjir besar selesai, kapal itu mendarat di bukit Judi.
 Sekali lagi pertanyaannya: apakah hanya itu gunanya Al Quran.

Banyak kisah-kisah para nabi lainnya yang dipaparkan Allah dalam Al Quran, pertanyaan umumnya kembali: apakah hanya itu gunanya Al Quran.

Tidak, sudah pasti tidak. Al Quran yang sempurna itu tidak hanya bercerita tentang apa yang tersurat di ayat-ayatnya tetapi yang paling penting adalah apa yang tersirat dari ayat-ayat tersebut.

Waktu kita membaca kisah Nabi Nuh AS, pasti pikiran kita terbang ribuan tahun lalu dan terbayanglah oleh kita banjir besar tsb dengan kapal Nabi Nuh terombang-ambing kesana kemari. Dan banjir tsb adalah banjir dengan skala yang demikian besar, istilah tvnya adalah Mega Flood, tidak ada bandingannya sampai sekarang. Ada yang menafsirkan sampai bumi ini tenggelam. Bayangan tersebut pada zaman sekarang bisa lihat dalam film: “2012: Doomsday.”

Pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa banjir besar tsb terjadi sekarang atau paling tidak pernah terjadi dua kali atau lebih setelah banjir besar tersebut. Pasti tidak. Belum ada catatan dalam sejarah banjir besar dengan skala yang sama pernah terjadi setelah zamannya Nabi Nuh AS. Nah, kalau kita membayangkan bahwa banjir besar tsb terjadi pada ribuan tahun lalu dan tidak ada sekarang, berarti kita telah lalai dalam menafsirkan Kitab Yang Sempurna ini. Kitab Al Quran selain sempurna dimana tidak ada pertentangan atau kekurangan sebesar zarah dalamnya juga masa berlakunya terjadi sampai hari kiamat. Selama masih ada kehidupan, Al Quran tetap berlaku. Berarti kejadian yang kita anggap terjadi ribuan tahun lalu seperti kejadian banjir besar Nabi Nuh tsb sebenarnya terjadi juga setiap saat sampai hari kiamat. Banjir besar tersebut sedang dan akan terus terjadi setiap saat sampai hari kiamat.

Semua ayat-ayat Al Quran yang bernuansa waktu yang kita anggap hanya terjadi pada sejarah nabi-nabi dan tidak berlaku lagi saat ini, berarti kita telah menyempitkan penafsiran kepada Kitab Sempurna itu. Semuanya, apapun yang mempunyai nuansa waktu dalam Al Quran sedang dan akan terjadi setiap saat dalam Al Quran. Kisah Nabi Yusuf tersebut juga terjadi setiap saat sampai sekarang.

Banyak sekali rahasia-rahasia Allah yang disampaikannya secara terselubung dalam Al Quran. Hanya orang yang mau berpikir yang bisa menyibak satu persatu rahasia-rahasia itu. Salah satu rahasia Al Quran yang mulai dibuka oleh Allah adalah persamaan antara makro dan mikro. Persamaan alam semesta makro yaitu langit dan bumi dengan alam mikro manusia. Banyak ayat-ayat yang mendukung hal ini.

Dengan pengertian persamaan makro alam semesta dengan mikro manusia, akan membuka pemahaman kita dalam mempelajari Al Quran. Misalnya, kalau Al Quran mengatakan tentang langit dan bumi, sebenarnya Allah sedang berbicara tentang kita. Selain pikiran kita melayang membayangkan langit dan bumi, maka pada pemahaman ini, pikiran kita juga akan masuk ke dalam diri kita sendiri, pada hakikat diri kita.

Sejarah para nabi dalam Al Quran yang bercerita pada sisi makro, yaitu terjadi pada waktu lalu dan berada kebanyakan di daerah Arab sana, maka dengan pemahaman persamaan makro dan mikro, sejarah para nabi tersebut sebenarnya pesan terselubung Allah kepada kita bahwa Dia berbicara tentang bagian dari diri kita. Kalau bicara tentang bagian dari diri kita, berarti waktunya tidak hanya masa lampau, tetapi juga sekarang, saat ini. Jadi kita tidak hanya menafsirkan suatu kejadian sejarah dalam Al Quran dengan masa ribuan tahun lalu dan terjadi jauh, artinya waktu dan tempat yang sangat jauh dari kita.  Maka mulai sekarang kita menafsirkan hal yang sama dengan waktu dan tempat yang sangat dekat dan saat ini.

Semuanya tentang pengenalan hakikat diri itu saya sampaikan secara panjang lebar dalam buku yang berjudul “Pengenalan Hakikat Diri Menurut Al Qur’an.” Tidak mudah menyampaikan hal yang baru sama sekali tentang pemahaman terhadap Al Quran.

Dalam buku tsb dibahas tentang apa peran masing-masing nabi dan terakhir Rasul SAW dalam hakikat diri kita. Semua yang dibahas tidak mengada-ada tetapi semuanya berdasarkan ayat-ayat Al Quran.

Satu hal yang penting dalam pengenalan hakikat diri ini adalah perintah Allah untuk berpikir, gunakan akal. Tidak ada satupun ayat di Al Quran yang memberikan statement negatif tentang akal ini. Jangan pernah menyepelekan sang Akal ini. Hanya dengan akal kita bisa kenal dengan banyak sekali ciptaanNya dan dalam perjalanannya hanya dengan akal pula kita bisa mengenal Tuhan dengan sebenar-benar mengenalNya. Tidak ada yang lain.

Hanya Akal yang bisa menyibak rahasia-rahasia ghaib Allah, tidak yang lain. Pada zaman Rasulullah SAW, waktu Beliau mengatakan bisa isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam satu malam, orang-orang kafir menyatakan suatu yang mustahil alias bohong, sedangkan pengikut Rasul SAW mengatakan percaya karena itu merupakan suatu yang ghaib. Tetapi pada zaman sekarang, perjalanan suatu malam dari Makkah ke Jerusalem tidak merupakan suatu yang bohong dan bukan juga suatu yang ghaib. Semua orang akan percaya kalau saya bisa bolak-balik Makkah – Jerusalem dalam satu malam.

Kenapa itu bisa terjadi? Dahulu ghaib sekarang nyata. Tidak lain hanya bisa terjadi karena ulahnya sang Akal. Kenapa sang Akal? Karena si Akallah yang menciptakan alat transportasi atau pesawat yang bisa bolak-balik dalam semalam itu. Semua penciptaan oleh manusia berasal dari sang Akal yang diawali oleh suatu ide. Contoh yang paling mudah adalah mau menggambar mobil. Sebelum gambar mobil tsb terlihat di atas kertas, pasti gambarnya sudah ada di benak si penggambar. Itulah dia si Akal. Dengan akallah manusia mau dijadikan khalifah di muka bumi.

Contoh lain dari ghaib ke nyata adalah alat komunikasi seperti handphone. Coba kita bayangkan kalau kita menggunakan handphone di depan orang purba. Pasti mereka akan menganggap kita dewa karena bisa berbicara dengan suatu yang ghaib. Alat perekam suara maupun video adalah bukti lain dari yang ghaib menjadi nyata karena semua yang kita lakukan akan terlihat, akan tersimpan dengan kedetailan yang sangat tinggi. Nanti kalau diputar lagi, akan bisa dijadikan suatu alat bukti. Dan ini nanti yang akan terjadi di Hari Berbangkit. Step by step, tahap demi tahap, Allah menurunkan ilham kepada sang Akal yang mau berpikir dan terus berusaha meningkatkan kemampuannya dengan membuka rahasia-rahasiaNya, sehingga yang dahulunya ghaib menjadi nyata. Semakin pintar suatu peradaban akan semakin banyak rahasia Allah akan disingkap  dan akhirnya sang Akal tersebut akan bisa bertemu dengan Sang Maha Ghaib.
 

Rabu, 06 April 2011

info

  • Dari Aisyah r.a bahwa Nabi SAW bersabda :" Dua raka'at fajar (salat sunnat yang dikerjakan sebelum shubuh) itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. " (HR Muslim)
  • Dari Ummu Habibah Radhiallaahu anha , ia berkata: "Aku telah men-dengar Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda, Barangsiapa salat dalam sehari semalam dua belas rakaat akan dibangun untuknya rumah di Surga, yaitu; empat rakaat sebelum Dhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah Isya dan dua rakaat sebe-lum salat Subuh."” (HR. At-Tirmidzi, ia mengatakan, hadits ini hasan shahih)
  • Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhu dia berkata: "Aku salat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dua rakaat sebelum Dhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Jum’at, dua rakaat sesudah Maghrib dan dua rakaat sesudah Isya." (Muttafaq ‘alaih)
  • Dari Abdullah bin Mughaffal radhiallahu anhu , ia berkata: "Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam , ‘Di antara dua adzan itu ada salat, di antara dua adzan itu ada salat, di antara dua adzan itu ada salat. Kemudian pada ucapannya yang ketiga beliau menambahkan: ‘bagi yang mau". (Muttafaq ‘alaih)
  • Dari Ummu Habibah Radhiallaahu anha, ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda, ‘Barangsiapa yang menjaga empat rakaat sebelum Dhuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah mengharamkannya dari api Neraka." (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits ini hasan shahih)
  • Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda : "Semoga Allah memberi rahmat bagi orang yang salat empat rakaat sebelum Ashar." (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan, hadits ini hasan)

info

  • Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: Hendaklah mereka mendirikan salat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan (QS.Ibrahim :31)
  • Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji (zinah) dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat lain) Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (al-‘Ankabut : 45) 
  • Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Maryam: 59)
  • Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (al-Ma’arij : 19-23)
  •  

Selasa, 05 April 2011

Penyebaran Islam (1200 - 1600)

Berbagai teori perihal masuknya Islam ke Indonesia terus muncul sampai saat ini. Fokus diskusi mengenai kedatangan Islam di Indonesia sejauh ini berkisar pada tiga tema utama, yakni tempat asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya.[1] Mengenai tempat asal kedatangan Islam yang menyentuh Indonesia, di kalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat. Ahmad Mansur Suryanegara mengikhtisarkannya menjadi tiga teori besar. Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercayai datang dari wilayah GujaratIndia melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M. Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M.[1]. Melalui Kesultanan Tidore yang juga menguasai Tanah Papua, sejak abad ke-17, jangkauan terjauh penyebaran Islam sudah mencapai Semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Kalau Ahli Sejarah Barat beranggapan bahwa Islam masuk di Indonesia mulai abad 13 adalah tidak benar, HAMKA berpendapat bahwa pada tahun 625 M sebuah naskah Tiongkok mengkabarkan bahwa menemukan kelompok bangsa Arab yang telah bermukim di pantai Barat Sumatera (Barus) [2]. Pada saat nanti wilayah Barus ini akan masuk ke wilayah kerajaan Srivijaya.
Pada tahun 674M semasa pemerintahan Khilafah Islam Utsman bin Affan, memerintahkan mengirimkan utusannya (Muawiyah bin Abu Sufyan) ke tanah Jawa yaitu ke Jepara (pada saat itu namanya Kalingga). Hasil kunjungan duta Islam ini adalah raja Jay Sima ptra ratu [[Sima dari Kalingga masuk Islam [3].
Pada tahun 718M raja Srivijaya Sri Indravarman setelah kerusuhan Kanton juga masuk Islam pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (Dinasti Umayyah).
Sanggahan Teori Islam Masuk Indonesia abad 13 melalui Pedagang Gujarat
Teori Islam Masuk Indonesia abad 13 melalui pedagang Gujarat adalah tidaklah benar, apabila benar maka tentunya Islam yang akan berkembang kebanyakan di Indonesia adalah aliran Syiah karena Gujarat pada masa itu beraliran Syiah, akan tetapi kenyataan Islam di Indonesia didominasi Mazhab Safi'i.
Sanggahan lain adalah bukti telah munculnya Islam di masa awal dengan bukti Tarikh Nisan Fatimah binti Maimun (1082M) di Gresik.

Masa kolonial

Pada abad ke-17 masehi atau tahun 1601 kerajaan Hindia Belanda datang ke Nusantara untuk berdagang, namun pada perkembangan selanjutnya mereka menjajah daerah ini. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya, VOC, sejak itu hampir seluruh wilayah Nusantara dikuasainya kecuali Aceh. Saat itu antara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, para ulama mengubah pesantren menjadi markas perjuangan, para santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah, sedangkan ulamanya menjadi panglima perang. Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad ke-13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan Islam yang syair-syairnya berisi seruan perjuangan. Para ulama menggelorakan jihad melawan penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:
  • Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan ulama dengan adat, contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.
  • Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar, seorang Guru Besar ke-Indonesiaan di Universitas Hindia Belanda, yang juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah. Dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji, karena pada saat itulah terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan.[4]
Di akhir abad ke-19, muncul ideologi pembaruan Islam yang diserukan oleh Jamal-al-Din Afghani dan Muhammad Abduh. Ulama-ulama Minangkabau yang belajar di Kairo, Mesir banyak berperan dalam menyebarkan ide-ide tersebut, di antara mereka ialah Muhammad Djamil Djambek dan Abdul Karim Amrullah. Pembaruan Islam yang tumbuh begitu pesat didukung dengan berdirinya sekolah-sekolah pembaruan seperti Adabiah (1909), Diniyah Putri (1911), dan Sumatera Thawalib (1915). Pada tahun 1906, Tahir bin Jalaluddin menerbitkan koran pembaruan al-Iman di Singapura dan lima tahun kemudian, di Padang terbit koran dwi-mingguan al-Munir.[5]


Sabtu, 26 Maret 2011

Sekedar mengekspose istilah Agama

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi".[1]. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Definisi tentang agama dipilih yang sederhana dan meliputi. Artinya definisi ini diharapkan tidak terlalu sempit atau terlalu longgar tetapi dapat dikenakan kepada agama-agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Untuk itu terhadap apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan titik perbedaannya.

Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa, God, Syang-ti, Kami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige dll.

Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri , yaitu :

  • menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan
  • menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan

Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur, ialah manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.
Baca lebih lanjut dari Om Wiki

Mengenai Saya

Watampone, sulawesi selatan, Indonesia
Belajar membuat blog, untuk keperluan positif dan tetap kritis

renunganku